Feeds:
Posts
Comments

Sebagai bagian dari program komunikasi dan konservasi, PT Putri Naga Komodo melakukan kegiatan sosialisasi di perkampungan nelayan yang terletak di dalam kawasan Taman Nasional Komodo. Sosialisasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga sumber daya alam yang ada di dalam Taman Nasional Komodo (TNK) serta berbagi informasi mengenai keadaan sumber daya alam TNK yang didapat dari hasil kegiatan departemen konservasi PT Putri Naga Komodo.

Kegiatan sosialisasi ini kami lakukan di Kampung Komodo, Kampung Rinca dan Kampung Papagarang pada 31 Maret hingga 2 April 2010. Untuk kegiatan ini, kami berkolaborasi dengan pemerintah setempat, yaitu kepala desa dan aparatnya serta organisasi pemuda setempat. Tim dari PNK yaitu  Hery Yusamandra (Science & Monitoring Coordinator), Junaidi (Community Development Coordinator) dan saya sendiri, Nila Tanzil (Communications Consultant). Kami bertiga berbagi tugas, yaitu Junaidi yang mengawali presentasi dengan memberikan penjelasan mengenai keadaan di bumi kita, lalu Hery yang mengupas topik-topik tentang konservasi, misalnya konsep bank ikan serta memaparkan hasil-hasil dari kegiatan monitoring atas sumber daya alam yang telah dilakukan oleh Tim Konservasi (tentang terumbu karang, stok ikan, dll), lalu Nila yang memimpin bagian tanya-jawab dan diskusi.

Sosialisasi di Kampung Komodo (Pulau Komodo) dilakukan pada 31 Maret 2010 dan dihadiri oleh lebih dari 80 warga masyarakat. Kegiatan yang dimulai pada pukul 20.00 WITA ini mendapat sambutan positif dari masyarakat setempat. Diskusi juga berjalan seputar tentang sistem zonasi, dimana masyarakat mengharapkan dilakukan peninjauan ulang terhadap sistem zonasi yang berlaku saat ini. Acara ditutup dengan pemutaran film tentang Taman Nasional Komodo yang ditayangkan di salah satu stasiun TV. Beberapa scene dilakukan di Kampung Komodo dan masyarakat tampak antusias ketika mengenali wajah-wajah mereka yang tampak di layar lebar tersebut.

Setelah bermalam di Loh Liang (Pulau Komodo), keesokan harinya (1 April 2010) kami melanjutkan perjalanan ke Kampung Papagaran yang terletak di Pulau Papagaran. Sama seperti di Kampung Komodo, kegiatan sosialisasi di Kampung Papagaran juga dimulai pada pukul 20.00 WITA dan dihadiri oleh lebih dari 50 warga setempat.

Dalam sesi diskusi dan tanya-jawab, para nelayan mengakui bahwa sebagian dari mereka masih menangkap ikan di wilayah yang dilindungi (No-Take-Zone). Disamping itu, banyak dari mereka belum memahami tentang sistem zonasi yang berlaku dan ingin mempelajari lebih lanjut dimana mereka boleh dan tidak diperbolehkan untuk menangkap ikan. Mereka juga mengharapkan lebih banyak program-program yang memungkinkan mereka untuk mendapatkan penghasilan lain di luar menangkap ikan (alternative livelihoods). Salah satu nelayan mengungkapkan adanya potensi konflik dengan dive operator, yaitu ketika salah satu dari mereka menangkap ikan di daerah wisata selam, ada dive operator yang mengusir nelayan tersebut dengan cara yang kasar. Para nelayan menyatakan bahwa mereka biasanya langsung pergi ke wilayah lain, jika ada yang menyelam, namun mohon cara “menegur”nya supaya dapat lebih halus.

Salah satu nelayan juga mengungkapkan bahwa ada banyak nelayan yang berasal dari luar kawasan Taman Nasional Komodo yang menangkap ikan di dalam kawasan. Mereka mempertanyakan akhir-akhir ini tidak ada patroli di dalam kawasan Taman Nasional Komodo. Mengapa? Nelayan pun mengharapkan agar patroli digalakkan kembali.

Setelah berdiskusi dan berkesimpulan bahwa kegiatan sosialisasi seperti ini harus dilakukan secara reguler, kami pun menutup acara malam hari itu. Tim kami bermalam di salah satu rumah penduduk disana.

Keesokan harinya, kami melanjutkan perjalanan menuju Kampung Rinca yang terletak di Pulau Rinca. Kegiatan sosialisasi dilakukan pada sore hari, pukul 4.30pm pada 2 April 2010. Sayangnya, di sore hari banyak nelayan yang sedang memancing di laut, sehingga kegiatan sosialisasi ini “hanya” dihadiri oleh 18 warga yang terdiri dari kepala desa dan pengurus, tokoh masyarakat, pengurus organisasi masyarakat dan nelayan yang sudah senior.

Para nelayan, khususnya nelayan senior menyadari bahwa hasil tangkap ikan jauh berkurang jika dibandingkan 50 tahun yang lalu (beberapa diantara yang hadir berusia 70 tahun dan sudah mulai menangkap ikan sejak usia mereka belasan). Nelayan di kampung ini menyadari pentingnya penegakan dan pengawasan di wilayah Taman Nasional Komodo, demi terjaganya sumber daya laut, karena hal ini berdampak langsung terhadap kelangsungan hidup mereka sebagai nelayan.

Bpk Hery menjelaskan kondisi sumber daya alam di Taman Nasional Komodo

Di akhir sesi diskusi, para nelayan menganggap bahwa kegiatan sosialisasi seperti ini sangat penting dan berharap agar kegiatan ini dapat dilakukan secara berkala. Mereka pun berharap agar pihak dari Balai Taman Nasional Komodo juga dapat hadir dalam kegiatan sosialisasi mendatang.

Kemarin saya datang ke pertemuan yang diadakan oleh Swisscontact di Labuan Bajo, Flores. Pertemuan ini dimaksudkan untuk memaparkan hasil survey yang telah Swisscontact lakukan, salah satunya tentang kepuasan pengunjung yang datang ke Taman Nasional Komodo.

Berikut adalah beberapa hasil survey yang dilakukan terhadap 100 pengunjung Taman Nasional Komodo:

  • Market pengunjung tertinggi adalah Eropa, dengan Belanda sebagai pengunjung terbanyak
  • Para pengunjung mengandalkan buku panduan / guide book dan internet sebagai sumber informasi
  • Atraksi utama bagi pengunjung adalah melihat komodo di alam bebas (56%), menyelam (44%), dan menikmati keindahan pantai (35%)
  • Mayoritas dari pengunjung (60%) merencanakan perjalanannya secara mandiri.
  • Mayoritas pengunjung (60%) tidak membeli suvenir ketika berlibur di Taman Nasional Komodo
  • Mayoritas pengunjung (58%) tidak menggunakan jasa biro perjalanan ketika berada di Taman Nasional Komodo
  • Bagi pengunjung yang menggunakan biro perjalanan (42%), mereka rata-rata berpendapat bahwa biro perjalanan dapat diandalkan dan tepat waktu
  • Mayoritas pengunjung juga puas terhadap pelayanan yang diberikan oleh dive operator (dapat diandalkan, kualitas pelayanan baik, informasi yang diberikan akurat)
  • 75% dari pengunjung Taman Nasional Komodo berharap dapat kembali berlibur disini! Wow!!!

Ketika ditanya, apa pengalaman yang paling menyenangkan dari kunjungan mereka? Jawaban tertinggi adalah melihat komodo di habitatnya di Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Jawaban tertinggi kedua adalah menyelam dan snorkeling.

melihat komodo di habitatnya masih menjadi daya tarik utama bagi turis

Rata-rata pengunjung menghabiskan waktu selama 3 hari di Taman Nasional Komodo. Hanya sedikit saja yang menghabiskan waktu lebih dari 7 hari disini. Ketika ditanya, “Apa alasan anda tinggal lebih lama di Taman Nasional Komodo?”

Jawaban tertinggi adalah “Tidak berhasil mendapatkan penerbangan yang sesuai dengan yang telah direncanakan” !!!

Hal ini menunjukkan betapa kurangnya pelayanan transportasi di daerah ini. Saya sering sekali mendengar banyak wisatawan yang “terdampar” di Labuan Bajo karena tidak berhasil mendapatkan tiket pesawat untuk kembali ke Denpasar. Ini adalah cerita klasik. Oleh sebab itu, kita semua berharap semoga kendala transportasi ini dapat diperbaiki, sehingga kita dapat memberikan pelayanan yang terbaik bagi para wisatawan yang berkunjung. Tidak ada lagi rasa was-was tidak bisa kembali ke negara asal tepat waktu, tidak ada lagi rasa was-was akan ketinggalan pesawat bagi yang punya jadwal penerbangan selanjutnya di hari yang sama (connecting flight), tidak ada lagi menunggu pesawat selama berjam-jam di airport Komodo. Ya, semoga ini semua dapat diperbaiki dengan segera, jika kita ingin Taman Nasional Komodo menjadi milik dunia!

Hal lain yang menarik untuk dicermati adalah 60% dari wisatawan menjawab tidak ingin tinggal lebih lama di INDONESIA, andaipun regulasi visa mengijinkan mereka untuk tinggal lebih lama. Wow. Ada apakah gerangan? Mengapa mereka tidak ingin tinggal lebih lama di negeri kita yang indah ini? Mungkin inilah saat kita untuk berintrospeksi. Pelayanan terhadap wisatawan harus ditingkatkan. Infrastruktur juga harus diperbaiki. Kemudahan wisatawan untuk berkeliling dari satu tempat ke tempat lain juga harus diperhatikan, terutama dalam hal transportasi dan akses ke tempat-tempat yang menarik.

Beberapa “komplain” di bawah ini bisa untuk dijadikan patokan. Menurut wisatawan, pengalaman yang paling mengganggu selama kunjungan mereka di Taman Nasional Komodo adalah:

1) Kota (Labuan Bajo) kotor, beberapa pantai juga kotor. Sampah plastik berserakan di setiap sudut kota, termasuk pantai.

2) Penerbangan tidak dapat diandalkan

3) Aspek keamanan perlu ditingkatkan, perahu wisata dan fasilitas lainnya mahal.

Mungkin kita tidak bisa menggeneralisasi jawaban di atas dan mengklaim bahwa tempat-tempat wisata lainnya di Indonesia mendapatkan “komplain” yang sama dari wisatawan. Namun setidaknya, kita dapat menjadikan masukan yang membangun ini untuk meningkatkan jasa layanan kita bagi wisatawan asing yang berkunjung ke negeri kita ini. Kebersihan masih menjadi masalah utama. Transportasi juga. ini adalah masukan yang sangat berharga bagi pemerintah maupun para pelaku pariwisata yang ingin membangun Indonesia sebagai salah satu destinasi wisata dunia. Demikian pula halnya dengan Taman Nasional Komodo. Masukan dari wisatawan ini sangat berguna dan harus dapat ditindak-lanjuti, sehingga Taman Nasional Komodo ini menjadi lebih indah, bersih, terjaga, dan menjadi sebuah tujuan wisata yang nyaman dan menyenangkan bagi siapa saja yang datang kesini.

Yuk kita sama-sama berusaha! 🙂

It’s been 3 weeks since we don’t have “normal” electricity in Labuan Bajo. People can only have access to electricity every 8 hours. So, for example, from 12am – 8am, there’s power, starts from 8am – 4pm there’s no power, from 4pm – 12am there’s power, and so on and so forth. Not only that, the city is divided by two parts. The down town and the upper part. If there’s power in the down town, it means there’s no power in the upper part and vice versa. Isn’t it amazing?

I have to get used to this condition these days. It’s not easy. Having used to live in big cities then suddenly I have to deal with having electricity in every 8 hours everyday is pretty annoying. People said that the government is trying to fix the problem, but how come it’s taking forever? No one really knows what’s the problem with the power stations. Most probably, there’s no enough power for everyone in this town as the town keeps growing each day. There are new hotels, new houses, new shops are built every day here. The government should really have a plan if they want to make everyone’s satisfied.

All restaurants and offices have to buy generators to keep the business going. At the place where I stay, there’s no generator, so I have to use candles at night. Even though it’s romantic, but I still prefer to have electricity and being able to switch it off whenever I want to :p. Unfortunately, that’s not the case :(.

People have to survive here with having only 8 hours of power during the day. It makes me think how the people in the villages live without power? Obviously they don’t use laptop that needs to be charged every now and then, or a mobile phone, or other electronic devices that makes your life dependent on them. Hmmm… I imagined myself living without my laptop, my cellphone nor the internet connection. It must be hard!

Sometimes I work from restaurants that have generators and work from there, if the one in my office doesn’t work. The restaurant staffs often complain about having to buy the fuels for the generator and how inconvenient it is having to work with such a limited power. Apart from that, using a generator means more cost for the restaurant.

Until when Labuan Bajo will have this problem? I asked around and it seemed no one had the answer. Only heaven knows.

anak-anak nelayan bermain di depan Kampung Papagaran

Pulau Papagaran yang berada di dalam kawasan Taman Nasional Komodo, terletak sekitar satu jam perjalanan dari Pulau Rinca. Di Pulau ini terletak perkampungan yang dinamakan Kampung Papagaran.

Kampung Papagaran memiliki populasi sekitar 1,220 penduduk. Mayoritas penduduknya berprofesi sebagai nelayan dan beragama Islam. Bahasa dominan yang dipakai untuk berkomunikasi sehari-hari oleh penduduk disini adalah bahasa Bima dan bahasa Bajo. Siang itu hari terasa sangat terik, ketika saya sampai di Kampung Papagaran. Kapal kami disambut oleh sekumpulan anak-anak yang sedang bermain di laut dengan mendayung sampan mereka. Mereka tampak gembira sekali.

Beberapa pemuda di Kampung Papagaran telah memiliki kesadaran akan lingkungan yang cukup tinggi. Mereka bahkan berencana untuk membuat Mangrove Center, dimana mereka dapat terus mengajarkan mengenai penanaman hutan bakau kepada adik-adik yang masih muda, sehingga kegiatan penanaman hutan bakau dapat berjalan secara berkesinambungan. Seperti kita ketahui bahwa hutan bakau sangat penting fungsinya bagi alam. Hutan bakau inilah yang mampu meredam gelombang dan badai, penahan lumpur, mengurangi pengendapan serta menghasilkan unsur hara di laut. Disamping itu, hutan bakau juga berfungsi sebagai penyaring limbah dan bahan pencemar lainnya yang berasal dari daratan.

Berbincang-bincang dengan seorang rekan yang tergabung di dalam komunitas Pencinta Lingkungan Hidup, ia memaparkan keinginan kelompoknya untuk terus melakukan penanaman bakau di kampungnya. Saat ini, salah satu kendala yang dihadapi oleh kelompok ini adalah biaya. Mereka masih belum dapat mendanai program-program mereka sendiri. Kelompok ini masih mengandalkan bantuan donatur dari pihak-pihak lainnya. Saat ini program-program yang telah mereka rencanakan untuk penanaman hutan bakau ini masih belum dapat direalisasikan secara sempurna, karena masih kekurangan biaya.

Marilah kita berharap supaya semakin banyak orang-orang yang peduli akan lingkungan, sehingga dapat membantu kelompok masyarakat pencinta lingkungan hidup seperti yang dimiliki oleh Kampung Papagaran ini.

This article is written by Matthew Allard, Aljazeera TV’s cameraman who visited Komodo National Park a few weeks ago. The article was published in Aljazeera.net’s blog.

Text and Photos by Matthew Allard

For millions of years, the Komodo dragon has lived in the Lesser Sunda islands in Indonesia, but they were only discovered by humans in the last 100 years.

For millions of years, the Komodo dragon has lived in the Lesser Sunda Islands in Indonesia. They were only discovered by humans in the last 100 years.

The Komodo dragon is on the endangered species list and although their numbers have increased in recent years, they still only number around 4,000.

They can weigh up to 150kg and grow to more than three metres in length. And Komodos eat almost anything – deer, pigs, smaller dragons, even large water buffalo and humans.

They lay in wait and surprise theeir pray. With shark-like serrated teeth, they bite there prey, but that’s not what kills them. Dragon saliva teems with over 50 strains of bacteria, and within 24 hours, its prey usually dies of blood poisoning.

I recently got the chance, along with Al Jazeera’s Indonesia correspondent Step Vaessen, to go and film these incredible animals, which are probably our closest link to the dinosaurs. To get there you need to fly from Bali to the island of Flores, and from there it is about a two-hour boat ride to Komodo Island.

The islands they inhabit are surrounded by crystal-clear water and provide some of the best diving spots in Asia. The landscape of the terrain ranges from lush green grass to African savannah.

It is a harsh and unforgiving place, but somehow these majestic creatures have managed to survive. The dearth of egg-laying females, poaching, human encroachment, and natural disasters have, though, driven the species onto the endangered species list.

First contact

In recent times, there has been an increase in cases of Komodos attacking humans.

With a decrease in food, they have moved into closer contact with people. In the only small fishing village on the island, a young boy was recently attacked and killed. But as the Komodo is now a protected species, it is against the law for people to attack them.

Coming into contact with a Komodo for the first time, you feel like you have stepped onto the set of Jurassic Park. They are an intimidating creature and are on the top of the food chain in the habitat they live in. Park rangers carry long wooden sticks that have a Y-shaped fork on the end. While I never felt threatened filming the dragons, I always had multiple rangers standing close by.

It is hard not to remain extremely cautious when shooting them. They look slow but can run in short bursts of up to 30kph. One dragon in particular seemed to take great interest in the camera and, as I was filming, it came within a few feet. Our ranger was noticeably nervous. To watch this incredible creature in its own environment was a real pleasure. It is the closest I will ever get to seeing a real-life dinosaur.

Indonesia wants to increase tourism to these islands but it is a fine balance between protecting the creatures and providing security and peace of mind for visitors. Let’s hope that these incredible creatures remain on our planet and don’t end up extinct, like so many other animals have.

Artikel ini ditulis oleh Nila Tanzil dan dimuat di koran Seputar Indonesia, Sabtu, 13 Maret 2010.

MELEWATKAN liburan di Taman nasional Komodo, sungguh menjadi sebuah pengalaman yang luar biasa. Gugusan pula indah, terumbu karang yang alami, dan reptil yang berseliweran sungguh begitu indah dipandang.

Air laut nan bening menghampar di depan mata. Riak-riak kecil yang membentuk garis pantai seolah mengajak kita untuk merasakan kesegaran airnya.Terumbu karang yang indah memesona dengan berbagai warna ikan hias yang hidup di dalamnya.Tak jauh dari bibir pantai beberapa komodo tampak hilir mudik. Sungguh pemandangan yang sayang bila dilewatkan. Ya, pemandangan ini memang hanya bisa disaksikan di Taman Nasional Komodo, Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Sejak 1991, Taman Nasional Komodo dinobatkan sebagai The World Heritage Site oleh UNESCO.

Barubaru ini,Taman Nasional Komodo juga terpilih sebagai salah satu finalis dalam ajang kompetisi dunia the New 7 Wonders of Nature. Taman Nasional Komodo bersaing ketat dengan ke-27 finalis dari negara-negara lainnya.

Surga bagi Para Penyelam

Bagi para penyelam, Taman Nasional Komodo adalah surga. Di sini para penyelam dapat menyelam dengan jarak pandang lebih dari 30 meter. Mereka juga akan merasakan sensasi dikelilingi seribu jenis ikan, 385 jenis terumbu karang yang berwarna-warni, penyu, ikan duyung, berbagai jenis hiu dan pari, termasuk ikan pari manta yang besarnya mencapai empat meter. Tak heran jika para penyelam dari berbagai pelosok dunia rela menyeberangi benua hanya untuk menyelam di Pulau Komodo dan sekitarnya ini.

Selain reputasi keindahan bawah lautnya yang telah diakui di mancanegara, kondisi daratan Taman Nasional Komodo ini pun tidak kalah uniknya. Di sinilah satu-satunya habitat di dunia tempat binatang komodo hidup dengan bebas. Komodo ini dapat ditemui di empat pulau di kawasan Taman Nasional Komodo, yaitu Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Gili Mota,dan Nusa Kode. Binatang yang konon telah hidup sejak jaman es (ice age) ini mampu bertahan hidup di keempat pulau tersebut karena minimnya kontak terhadap manusia. Sebagian besar dari keempat pulau tersebut masih alami dan belum terlalu terkontaminasi oleh campur tangan manusia. Menurut penelitian, komodo sebelumnya juga hidup di daratan Flores.

Namun sejak manusia datang dan mendominasi daratan Flores, populasi komodo pun menurun drastis. Itulah sebabnya komodo yang hidup di keempat pulau ini harus dijaga populasinya agar tidak punah.Saat ini tercatat sekitar 2.500 komodo yang hidup di dalam Taman Nasional Komodo. Jika berlibur di sini, Anda dapat menyewa perahu nelayan untuk mengunjungi Loh Liang (Pulau Komodo) dan Loh Buaya (Pulau Rinca) untuk melakukan tracking. Kedua area konsesi ini dikelola PT Putri Naga Komodo, di mana perusahaan ini membangun infrastruktur yang nyaman bagi para turis yang berkunjung ke lokasi untuk melihat komodo.

Selain itu,perusahaan ini juga menyediakan jasa naturalist guide. Jadi,setiap wisatawan yang datang ke area konsesi akan ditemani guide tersebut.Dengan fasih,mereka akan bercerita tentang perilaku komodo serta siap menjaga keamanan wisatawan dari hewan yang hampir punah ini.Para guide ini membawa tongkat panjang yang bercabang dua di ujungnya. Tongkat ini konon berguna untuk menghalau komodo yang berusaha mendekati turis.(*)

Artikel ini ditulis oleh Nila Tanzil dan dimuat di koran Seputar Indonesia, Sabtu, 12 Maret 2010.

TRACKING di Pulau Komodo ternyata sungguh menarik.Dari Loh Liang (Pulau Komodo),dengan berjalan selama 1,5 hingga 2 jam,saya dapat sampai di salah satu puncak bukit dan menikmati pemandangan alam yang luar biasa indahnya.

Meskipun lelah karena perjalanan yang cukup mendaki dan matahari yang terik menyengat kulit,namun saya sangat puas ketika sampai di puncak bukit. Pemandangan berbagai gugusan pulau dikelilingi oleh air laut yang biru nan memesona berada tepat di depan saya.Wow,simply amazing! “Indonesia memang sangat indah”,ujar saya di dalam hati. Sepanjang perjalanan tracking, rusa-rusa Timor berkeliaran di mana-mana. Mata mereka yang cantik dan tanduknya yang bercabang tinggi,membuat rusarusa Timor itu tampak anggun dan elegan.

Di LohBuaya (PulauRinca), selain komodo, saya menyaksikan beberapa kerbau yang sedang berkubang, sarang komodo betina menyimpan telur-telur mereka,babi hutan serta monyet yang berkeliaran. Sungguh tempat berlibur yang cocok bagi para pencinta alam. Keindahan PulauRinca dengan hamparan savananya yang luas akan mampu menghipnotis saya dan membuat saya berpikir seperti berada di padang gurun yang luas.Wah pengalaman yang tak terlupakan. Ketika hari menjelang petang, saya menyempatkan diri berkunjung ke Kalong Rinca untuk menyaksikan ribuan kelelawar yang bermigrasi dari Pulau Kalong Rinca ke daratan Flores dengan dihiasi latar belakang langit berwarna oranye dan matahari yang mengintip dari permukaan laut, siap untuk tenggelam.

Benar-benar pemandangan yang menakjubkan. Nah, jika Anda mengidamidamkan liburan di pantai yang tak berpenghuni,sepi,dan indah, di sinilah tempat yang ideal.Ada banyak sekali pantai indah tak berpenghuni yang dapat Anda kunjungi. Di antaranya yang terkenal adalah Pink Beach. Mengapa disebut demikian?Karena memang pasir di pantai ini berwarna… pink! Very cute! Pink Beach ini juga terkenal sebagai salah satu spot terbaik untuk snorkeling.Wisatawan dapat dengan puas menikmati hamparan terumbu karang nan indah dengan berbagai jenis ikan yang hidup di sekelilingnya.

Air yang jernih bak kristal juga akan menyempurnakan pengalaman snorkeling semua wisatawan yang berkunjung ke pantai yang spesial ini. Selain snorkeling, berenang, dan menyelam, kegiatan olahraga air yang juga dapat dilakukan di sekitar Taman Nasional Komodo adalah kayaking.Wisatawan dapat menyewa perahu kayak di kota Labuan Bajo dan mengayuhnya menuju Pulau Bidadari yang memiliki pantai berpasir putih nan indah. Selain Pulau Bidadari,beberapa pulau lain yang dapat ditempuh dengan kayak antara lain Pulau Sabolo dan Pulau Monyet, dengan jarak sekitar 30 menit dari kota Labuan Bajo.

Jika melalui jalur laut,Anda dapat naik kapal feri dari Tanjung Benoa, Bali. Selamat berlibur dan menikmati keindahan Pulau Komodo dan sekitarnya! Saya jamin liburan Anda kali ini pasti tak terlupakan! (*)